15 December 2010

Indomie vs Susu Balita

Beberapa waktu lalu aku membahas respon audiens terhadap iklan Smart dan nggak bosen-bosennya aku berbagi cerita sejenis. Petarung kali ini adalah iklan TV Indomie terbaru dan iklan TV susu balita!!!

 

Suatu malam aku membeli nasi goreng babat yang bikinnya tentu di goreng bukannya dibabat kaya si pitung nyikat Belande. Lagi bengong sambil lirik sini sana eh di seberang meja ada 2 cewek mahasiswi yang lumayan seger kayak sawi. Mereka nunggu pesanan sambil lihat acara di TV yang nangkring di atas entah gimana caranya bisa sampai sana. Karena secara visual si cewek biasa aja, aku lanjut dengan bengongnya sampai kemudian aku dengar music dari iklan Indomie terbaru. Menampilkan beberapa adegan orang kehujanan yang kemudian diakhiri adegan orang lagi menyantap Indomie dengan nikmatnya. Yup yang diomongin adalah hujan-hujan gini enaknya nyruput Indomie. Masih jelas ingatanku ketika anak-anak ‘Ngenge bilang ni iklan oke banget dah. Insightful istilah mboys-nya. Karena itu muncul penasaranku ingin melihat reaksi audiens yang notabene pengonsumsi Indomie. Satu dua adegan aku lirik mereka masih sempat-sempatin melirik. Di pertengahan durasi mulai nyuekin, bahkan hingga akhir iklan. Padahal jawaban dari clue-clue visual sebelumnya ada di ending. Melihat itu, alisku yang nggak seberapa ini spontan mengerut. How come??? Iklan yang kata beberapa teman kantor bagus justru dicuekin sama konsumennya? Hmm…

 

Setelah iklan selesai muncul iklan TV susu balita yang kebetulan salah satu favoritku belakangan ini. Menceritakan 3 balita yang ditanya secara bergantian kalau besar pengen jadi apa. Balita pertama dan kedua nggak bisa jawab kemudian balita ketiga sebagai jagoan menjawab ingin jadi dokter agar bisa menyembuhkan teman-temannya yang sakit. Lalu aku lirik kembali kedua mahasiswi tadi yang ternyata memerhatikan iklan TV tersebut. Nggak cuma itu, sempat muncul bahan obrolan seputar iklan itu entah apa. Yang jelas, iklan susu tersebut lebih menarik bagi kedua mahasiswi tersebut daripada iklan Indomie.

 

Ketika pertama kali melihat iklan Indomie terbaru, jujur aku nggak se-amaze teman-temanku. Kenapa? Menurutku iklan ini terlalu apa ya istilahnya… abstrak mungkin kali ya? Hahahaha… maksudnya nampilin cut to cut adegan yang ada hubungannya ama hujan dan seri lainnya yang awalnya nggak jelas ini tentang apa. Beberapa adegan malah aku nggak ngerasain romantisme hujan dan kehujanan yang lalu membayangkan nikmatnya makan Indomie ketika itu. Mungkin…. Ini mungkin lho… nggak usah kebanyakan adegan, ambil 3 moment utama ketika kehujanan tapi dengan DOP yang ciamik tentunya. Bisa pas neduh bareng orang lain di emperan toko, nongkrong di warung Indomie pas hujan sampai masih nglembur di kantor ketika hujan. Karena buatku ada beberapa adegan yang kalaupun hilang nggak ngaruh sama pesan yang mau disampaikan. Bisa jadi… terlalu banyaknya adegan yang ngapture suasana pas hujan malah bikin mereka mikir, “ini apaan sih?” Alhasil sebelum sampai ke “gong” mereka udah cuek duluan.


Hahaha… namanya komentator cuma bisa komentar dan belum tentu bisa bikin lebih bagus. Paling tidak respon kedua mahasiswi tadi jadi renungan-(paling tidak)-ku bahwa bagus buat orang iklan belum tentu bagus dan efektif buat audiens. 

Susahnya Cari Duit

Biarpun lagi bulan puasa, nggak jaminan bisa pulang sore. Yang ada malah perasaan aneh bin ajaib kalau pulang masih bisa melihat matahari sore. Dan seperti biasa aku pulang sekitar jam setengah 9, mampir makan dulu sebelum melaju lagi menuju rumahku. Jam menunjukkan pukul 10 dan belokan rumah sudah di depan mata, mendadak aku teringat harus beli makan sahur. Bukannya males keluar, tapi posisi rumah yang jauh dari warung makan memaksaku selalu sahur dengan lauk dingin, wew. Tanpa perlu memarkir motor di pinggir jalan untuk berpikir lama lauk apa yang cocok sama moodku, aku teringat ada warung penyetan yang lumayan di dekat situ. Langsung aku pacu motorku ke sana.

Sampai di warung, nampak lengang hanya ada 2 mbak yang satu tiduran di meja (bukannya terlentang di atas meja lho, hanya menaruh kepala di atas meja) dan satu lagi segera menghampiri aku dengan senyum lugunya. Segera aku pesan ikan nila yang digoreng kering dan kemripik, si mbak yang menghampiri membangunkan si mbak yang lagi bobok. Si mbak bobok nampak masih ngantuk berat dan melanjutkan tidurnya. Akhirnya si mbak senyum lugu yang melayani aku. Dengan wajah lugu dihiasi senyum, dia menggoreng nila dan menyiapkan sambal mentah dan lalapannya.

Sambil menunggu pesananku jadi, aku melihat sekeliling warung, sepi... (Ya iyalah udah jam 10an gitu...) Tapi bukan itu yang bikin aku merenung. Tak luput, aku melihat rak berisi ayam, lele, tempe, ikan, tahu dan hidangan warung lainnya. Yang bikin heran, rak masih terisi penuh. Logikanya nih, jam kan udah jam 10, harusnya barang dagangan udah berkurang paling tidak separuhnya. Lha ini masi penuh raknya. Masak ya nggak laku? Tiap hari kayak gini, nungguin sampai ngantuk... apa nggak rugi? Tapi aku positif thinking, mungkin si warung mau buka sampai sahur. Pesananku jadi dan sedikit kaget karena harganya mahal juga, hehe... tapi tak apalah...

Jam menunjukkan pukul setengah 3. Aku keluar rumah untuk mencari makan sahur. Aku melewati warung penyetan tadi dan aku lihat tutup. Ternyata si warung tidak buka ketika sahur. Hmmm... susahnya cari duit...

Fail Billboard

Jogja pagi ini agak mendung, aku laju motorku menuju tempat kerja. Ketika melewati jalan Gejayan, ada billboard lumayan besar The Parade. Ituu... festival clothing. Batinku bilang, “wah boleh juga nih... tapi mana tanggal acaranya ya?” Sambil melaju semakin dekat dengan billboard mataku jelalatan mencari tanggal acara tapi nggak ketemu juga. Yang ada desain pintu gede terus sekelilingnya tulisan-tulisan pengisi acara dan ini acara tentang apa. Pas, tinggal semeter jaraknya dengan billboard baru ketemu dah tanggalnya. Lokasinya ada di tengah-tengah seperempat bagian atas kanan. Ukurannya... nah ini... sepersepuluhnya ukuran billboard! Busyeeettt!!! Bikin acara tapi waktu acaranya nggak keliatan. Pokoknya yang aku lihat desainnya terlalu dominan dibanding info-info penting seperti 5 w+ 1 h. Ya paling tidak ada tonjolin kapan dan di mana-nya. Menurutku billboard ini gagal dalam penyampaian pesan. Terus aku iseng cari webnya dan ketemu! Tapi di desain header malah sama sekali aku nggak nemu ini kapan acaranya dan di mana. Cek webnya... http://www.the-parade.co.cc/2010/12/yogyakarta-annual-clothing-exhibition.html

Ketika berkendara, berapa detik sih waktu untuk memperhatikan suatu objek apalagi membacanya? Nggak sampai 5 detik kan? Terus kenapa masih banyak billboard dengan isi dan tulisan yang begitu banyak? Mana sempat orang baca apalagi pas melaju dengan kendaraannya? Buat saya billboard yang efektif itu berisi sebuah visual utuh dan satu line copy yang kuat. Kalau mengiklankan acara ya hampir sama, sebuah visual utuh tapi harus ngalah dengan copy-nya. Karena copy mengemban tugas utama. Harus jelas dalam satu kalimat ini acara tentang apa (syukur-syukur dari nama acaranya aja udah ketahuan) dan kapan, di mana dan bagaimananya. Kalau emang mau banyak yang disampaikan jangan paksain. Mending yang baca suruh maen ke website acara atau paling tidak Facebook. Caranya ya cantumin alamatnya dengan jelas. Menurutku sih gitu... mungkin teman-teman ada yang mau menambahkan atau mengurangi, hehehe...

Jadi ingat perkataan Mbak Jeanny Hardono yang kurang lebihnya begini... “Kalau mau bikin print ad, belajar bikin billboard dulu”.

Sekian

13 February 2010

Secuil Cerita di Sebuah Rumah Makan

Malam itu aku makan di sebuah rumah makan masakan Padang tapi cita rasa yang sudah melebur denga masakan Jawa. Beberapa karyawan terlihat ngobrol dan asyik menonton sinetron karena masih sepi pengunjung. Setelah mengambil makanan dan lauk aku duduk menghadap para karyawan tadi. Mereka asyik mengobrol sambil sesekali melirik TV dengan acara sinetronnya. Kemudian saat parade iklan tiba dan aku penasaran apa reaksi mereka. Satu iklan mereka masih cuek dan terus mengobrol. Iklan kedua juga sama. Sampai ketika sebuah iklan produk CDMA muncul. Menceritakan maling ayam yang tertangkap dan dibawa ke kantor polisi. Ketika si polisi membaca iklan produk yang menuliskan "seumur hidup", si pencuri langsung klenger karena dikira dia akan dihukum seumur hidup. 2 karyawan langsung melirik iklan tersebut dan membuat mereka tertawa. Teman yang lain jadi penasaran karena tidak sempat melihat iklan itu. Yang menonton lalu menceritakan cerita iklan tadi dan yang lain ikut tertawa. Untuk beberapa saat mereka "dihibur" oleh iklan tadi. Kemudian muncul iklan produk shampo dan mereka kembali cuek. Hanya satu yang melihat itupun dengan tatapan kosong menanti parade iklan berlalu agar bisa melihat sinetron favoritnya.

Mungkin ada yang bilang iklan yang lucu kadang mengalahkan pesan dan produk iklan tersebut. Tapi setelah melihat reaksi mereka, aku berpikir kadang iklan yang lucu atau menghibur justru bisa memperkuat pesan dan produk. Kalau pun pada kontak pertama para audiens masih terhibur dengan ide/ cerita dan melupakan produk yang diiklankan, masih ada penayangan lain. Secara spontan mereka akan penasaran ini iklan produk apa. Mereka lalu menceritakan ke teman-temannya kalau ada iklan yang menghibur. Bahkan tak jarang teman mereka saking penasarannya sampai menanti iklan itu muncul.

Kemudian, cerita di iklan CDMA tersebut masih hangat dengan berita-berita di koran akhir-akhir ini. Dimana banyak kasus pencurian benda yang sepele bahkan murah, tapi pelakunya dihukum berat. Tentu hal itu membuat iklan semakin nyaman di mata audiens. Ide yang menarik/ menghibur audiens dan cerita yang lagi hangat-hangatnya, sebuah perpaduan yang kuat.




22 January 2010

Meramal Hujan

Tadi pagi kukendarai motorku melintasi pemandangan gunung Merapi yang tumben tidak diselimuti awan pertanda hujan. Langit terlihat biru dan bersih dari awan. Apakah itu tanda hari ini bakal cerah? Belum tentu...

Ketika masih kecil aku pernah baca di sebuah majalah, cara mudah memprediksi hujan. Cukup dengan melihat ke arah timur yang paling bawah. Bila terlihat sekumpulan awan maka besar kemungkinan nanti siang, sore bahkan malam akan hujan. Aku udah sering mencobanya dan kebanyakan prediksiku benar. Tentu itu berguna untuk sekarang ini yang cuacanya tak tentu.

Semoga membantu... :P

21 January 2010

Anggota DPR Dapat Komputer Baru Seharga 20 Juta

Elvan Dany Sutrisno - detikNews

Jakarta - Fasilitas mewah kembali diterima oleh anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Kali ini anggota dewan mendapat komputer baru seharga 15 juta rupiah. Komputer Dell studio one dengan monitor 14 inch merupakan pengadaan yang dilakukan anggota dewan periode lalu dengan panitia anggaran.

"Barangnya sudah ada di meja semua anggota DPR. Komputer baru harganya ada yang bilang 15 juta ada yang bilang 20 juta," kata Ketua DPR Marzuki Alie saat ditemui detikcom di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (21/1/2010).

Menurut Marzuki, pengadaan komputer sepenuhnya adalah kesepakatan anggota DPR periode lalu dengan panitia anggaran. Dirinya mengaku tidak tahu menahu. "Tiba-tiba dikasih meja, itu urusan DPR periode lalu," papar Marzuki.

Menurut Marzuki, periode lalu yang mengurus pengadaan barang adalah panitia anggaran dan Sekjen DPR. Marzuki tidak tahu harganya, Sekjen DPR yang mengetahui semua pembelian barang.

"Semuanya Sekjen sepenuhnya, kuasa pemegang anggaran itu di Sekjen," papar Marzuki.

(van/did)

Setelah saya googling, Dell Studio One cuma ada kompi desktop dan layarnya 19" yang harganya 1600-an dollar bukan 14" kecuali Dell Studio (laptop) yang harganya berkisar 8 juta, tapi lah ini katanya 15-20 juta. Berarti yang ini...

DELL Studio One

Platform Home Multimedia Desktop PC
Processor Type Intel Core2 Duo Processor
Processor Onboard Intel® Core2 Duo Processor E7500 (2.83 GHz, FSB 1066, 3MB)
Chipset nVIDIA nForce 720i
Standard Memory 4 GB DDR-2 SDRAM PC-5300
Max. Memory 4 GB (2 DIMMs)
Video Type NVIDIA GeForce 9400
Hard Drive Type 500 GB Serial ATA-II/300, 7200 RPM, Cache 16 MB
Optical Drive Type DVD±RW
Modem Internal Fax / Modem 56Kbps V90
Networking Integrated 10/100 LAN
Network Speed 10 / 100 Mbps
Keyboard Type Wireless keyboard
Input Device Type Wireless mouse
Card Reader Provided 7 in 1 media reader
Interface Provided 6x USB, LAN, Audio
O/S Provided Microsoft* Windows Vista Home Premium 64-bit
Monitor Provided 18.5" LCD, * Touchscreen, 16:9 WXSGA, CCFL (1366x 768)

Woooooowwww... ni mo jadi anggota DPR apa designer ya? Ckckckkck...

Free for Ladies

Familiar dengan istilah di atas? Yup... itu sering dipakai bila ada tempat dugem yang melakukan promo. Kadang kita mikir, kok cuma cewek yang boleh gratis masuk dan bahkan ada yang ngasih suprise atau hadiah seperti free "bottle" atau apalah itu. Jawabnya... target sebenarnya pemilik dugem tidak cuma menarik minat kaum hawa, tapi yang penting menarik kaum pria untuk datang. Bukan rahasia salah satu alasan pria-pria datang ke tempat dugem selain untuk mabuk adalah melihat cewek-cewek cakep, syukur-syukur dapat kenalan. Bahkan biar makin heboh, ada syarat bagi cewek berpakaian ter-sexy akan mendapat hadiah dari tempat dugemnya. Jelas kan kalau itu semua cuma untuk menarik kaum cowok datang berbondong-bondong. Nah sekarang yang jadi masalah... kalau misal para cowok pada heboh rame-rame mo datang mengharapkan bertemu para tamu cewek yang hot-hot... tapi ketika sampai di tempat dugem ternyata para cewek tidak ada yang datang. Kebayang seisi tempat dugem adalah cowok semua, wowkwkwkw... trus ngapain dugem?


Just a thought...