08 February 2011

Mereka Melihat Keduanya Merokok

Suatu siang habis berkeliling kota, aku makan siang di depan komplek gardu PLN Jakal km 7/ 8. Aku beli lontong opor lalu menunggu pesanan datang. Di depanku ada keluarga yang sedang menikmati santap siang bersama. Si suami Jawa banget dengan badan cukup kekar sedang istri putih langsing dengan wajah yang cukup caem. Beredar 2 anaknya yang umurnya paling tua sekitar 5-6 tahun ditemani mungkin saudara salah satu pasangan itu. Mereka terlihat sudah selasai dan sedang bersantai. Pesananku tiba dan aku melihat sebuah pemandangan yang membuatku takjub sekaligus prihatin. Suami istri itu sama-sama mengeluarkan sebatang rokok, mereka nyalakan lalu hisap dalam-dalam dan mengepulkan asapnya di depan anak-anaknya! Wow… Jujur aku jadi prihatin dan miris… Kok nggak bisa nahan diri paling nggak ngrokoknya pas nggak ada anak-anak mereka. Wew… secara anak-anak meniru apa yang dia lihat, aku yakin mereka kelak pasti merokok juga. Hmmm… Itu kelak, sekarang… sudah pasti kedua anak mereka adalah perokok pasif. Bayangkan masih kecil udah kemasukan asap rokok. Wew…


Piringku masih tersisa beberapa potong lontong, mereka beranjak pergi mengendarai sepeda motor. Aku masih tertegun sampai tiba-tiba pegawai lontong opor ngrasani (Ngomongin) pasangan tadi.

“Wah… kae lanang wedhok ngrokok yo?”

“Ho oh… koyok wong sukses wae…”

Kembali aku tersentak halus… merokok sebagai symbol kesuksesan???

30 January 2011

Jempolku Kembali Sakit

Kalau lihat posturku, pasti nggak ada yang percaya aku bisa basket, Hehehehe… Kenyataannya, aku mengenal basket sejak SD kelas 4 dan mulai intensif ketika masuk SMP. Bahkan pas SMP kelas 1 sampai awal kelas 2 aku hampir tiap hari basket. Pernah ikut latihan di Klub Halim Kediri hampir setahun, menjadi pengumpan sejak SMP hingga kuliah. Ketika masuk kuliah sempat ikut latihannya tim FISIPOL UGM dan lumayan rutin basket di lap. Lembah UGM, UNY dan lainnya. Itu dulu… Ketika kemarin aku basket di lapangan Gereja Jakal km 8 dan duduk di pinggir lapangan, aku tertegun dan muncul pertanyaan… Kenapa aku nggak selincah dan se-fit dulu, ya? Hahaha… Yoi, dengan tinggi 169,7 cm beratku 60 kg, wekekekek… belum jarangnya aku olah raga. Jadinya baru maen bentar udah ngos-ngosan, wekekek… Tapi tak apalah, yang penting gerak. Balik lagi basket kemarin, aku emang cuma masukin 4 kali, blok sekali, ngerasa punya andil besar di pertahanan ketika jadi center dan cedera jempolku yang kambuh lagi… ~,~! Kalau dibilang keseleo, mungkin… bahasa Jawa-nya kalau aku bilang keplecuk… atau… oh ya… ketekuk! Hehhe… Sebab musababnya seingatku kelas 2 SMP ketika main di lapangan sekolah, aku nangkap passing nggak sempurna dan kena jempolku dulu. Keteku deh, hehehe… Pas main ke rumah nenek, beliau lalu mengurutnya dan sembuh… Hmm… tiap cedera jempolku kambuh jadi inget Nenek, karena dia tukang urut pribadiku.

Sudah sering jempolku kumat, sudah sering juga aku minta urut Nenekku. Awalnya urutannya sangat mantap… enak deh. Lama kelamaan kekuatannya semakin berkurang dan saat itu aku sadar beliau sudah semakin tua. Jarak rumahku dan rumah beliau sangat dekat, cuma 4 rumah. Jadi saya sering main ke rumahnya bahkan tidur di sana juga. Ikut makan bahkan ketika SMP tiap malam aku dibikinin kopi buatannya sendiri. Beliau beli biji kopinya, meraciknya, menggorengnya pake penggorengan dari tanah liat lalu menyuruh aku menggilingnya di tukang giling. Hasilnya tentu mantap… tapi dengan semakin bertambahnya umur, beliau tak serajin dulu. Cukup dengan membeli kopi Kapal Api untuk menemani hari-harinya. Aku juga tak terhitung lagi nonton bola di rumahnya karena kalah sama Bapak almarhum yang menggemari Misteri Gunung Merapi dan Angling Dharma. Nenek bahkan menemaniku nonton sampai tertidur. Tak terasa hari-hari berlalu dan aku mulai kuliah dan… tak sesering dulu bertemu beliau.

Suatu ketika aku mendapat kabar beliau wafat. Aku kaget karena sebelumnya tak ada kabar beliau sakit. Ternyata beliau meninggal di tempat tidurnya ditemani Ibu. Konon tanda-tandanya sudah terlihat 2 minggu kebelakang. Jadi sedih kenapa nggak ada yang ngasih tahu aku sebelumnya karena kata Kakak beliau sempat menanyakan aku ada di mana. Tukang urut pribadiku, baristaku, teman nonton bolaku telah tiada. Tapi kenangan bersama beliau akan terus ada…

Ya Allah… salam kangen buat Nenek, Kakek dan Bapak…

16 January 2011

Artis Itu Bernama Juventus

Satu perubahan Juve di 2 musim kebelakang, yup... selalu ada gosip hendak membeli pemain ini... itu... dan rajin menghiasi berita trasnfer bahkan ketika belum waktunya sesi transfer. Udah kayak lagi liat infotainment aja. Selalu ada berita tentang Juve.


Emang sih, sebagian gosip akhirnya terbukti tapi bagi aku, Juventini... bikin gregetan juga. Udah berapa pemain bintang yang dikaitkan tapi kenyataannya malah membeli dan meminjam begitu banyak pemain kelas medioker. Sorry to say, kali ini aku setuju ama Moggi. Kalau kata Del Neri ini proyek jangka panjang, trus kenapa meminjam? yang belum tentu di akhir musim dibeli. Dari beberapa pemain baru (yang bahkan bisa dibentuk satu tim baru), hanya Krasic dan Aquilani yang penampilannya lumayan bagus. Pepe angin-anginan, Motta biasa aja malah sering cedera, Traore makin keliatan kenapa Arsenal "membuangnya" dan Bonucci... mengingat dengan gaji segitu (setelah lihat di FM 2011), permainannya masih biasa aja. Jangan-jangan Beppe Merotta dan Del Neri yang kalap? masukin banyak pemain? padahal jelas-jelas banyak muka baru perlu proses adaptasi.

Ya sudahlah... semua udah terjadi, seperti yang aku bilang di awal musim, aku gak berharap banyak Juve kali ini langsung berprestasi. Tapi untuk musim depan, ada beberapa hal yang aku inginkan.

Motta dan Traore dikembalikan, carilah wing back kanan dan kiri buat first team. Pertahankan Sissoko, Melo apalagi Marchisio. Aquilani cukup baik palagi kalau harganya dirasa lebih murah daripada playmaker lain di pasaran (apalagi dia Italiano). Cari pelapis Krasic. Pepe sbenernya cukup baik, tapi kalau ada pilihan lain yang lebih bagus di winger kiri dan harganya terjangkau, ganti aja. Jangan lupa cari pelapisnya. Tarik kembali Giovinco untuk pelapis playmaker. Amauri udah off peak, jual aja dan cari pengganti sepadan dan lebih baik. Gak perlu yang top asal rajin bikin goal karena 2-3 musim ini tak ada striker yang rajin bikin goal kecuali Del Piero. Iaquinta pekerja keras dan punya team work, pertahankan aja paling gak semusim lagi sekalian jadi pelapis striker baru. Carilah pengganti Del Piero! Del Neri cukup bagus, gak usah diganti.

Wow... ternyata banyak juga tuntutan dari aku, hehehe... tapi menurutku itu yang terbaik buat Juventus kalau ingin bersaing di level yang lebih tinggi.


Salam... I love Monday!

30 December 2010

Amarantine

Enya - Amarantine

You know when you give your love away
It opens your heart, everything is new
And you know time will always find a way
To let your heart believe it's true

You know love is everything you say
A whisper, a word, promises you give
You feel it in the heartbeat of the day
You know this is the way love is

Amarantine
Amarantine
Amarantine
Love is, love is, love...

Amarantine
Amarantine
Amarantine
Love is, love is, love...

You know love may sometimes make you cry
So let the tears go, they will flow away
For you know love will always let you fly
How far a heart can fly away

Amarantine
Amarantine
Amarantine
Love is, love is, love...

Amarantine
Amarantine
Amarantine
Love is, love is, love....

Amarantine
Amarantine
Amarantine
Love is, love is, love....

You know when love's shining in your eyes
It may be the stars falling from above.
And you know love is with you when you rise,
For night and day belong to love.

http://www.youtube.com/watch?v=IQU4DoE1eBg

Indonesia kalah karena arogansi Riedl

Copas status orang...
"Indonesia kalah dalam menjuarai piala AFF karena arogansi dari pelatih Indonesia asal Austria tersebut yang tak mau mendengarkan nasihat dari suporter.
Padahal seluruh suporter di GBK telah berteriak-teriak dengan lantang TURUNKAN NURDIN...tp riedl tetap tidak menurunkan NURDIN di 90 menit pertandingan..."

18 December 2010

Angkringan Kali Ini Istimewa!

Entah karena lapar atau emang istimewa, yang ini sungguh memuaskan. Lokasinya nggak jauh dari rumahku, yup... di Jakal km 10. Secara interior juga sama kayak angkringan di seluruh Jogja. Tapi entah kenapa setelah makan merasakan surga tertinggi dari cita rasa makanan. 

Ketika motor aku lajukan masuk ke jalan arah rumahku, kulihat kilauan lampu teplok khasnya. Aku matikan mesin, standar aku renggangkan hingga maksimal agar kuda campuran besi, plastik dan aluminiumku tidak ngglundung. Memasuki pintu angkringan langsung mataku jelalatan mencari mangsa. Setelah nego dengan penjual tentang yang mana sambal teri yang mana oseng-oseng, akhirnya aku ambil kedua jenis itu masing-masing satu biar nggak pada protes lalu unjuk rasa karena pilih kasih. Setelah itu aku berburu lauk. Karena tadi siang sudah berbule ria di I-Cafe Sagan dan memesan Cappuccino serta French Fries (Negara kok bisa digoreng ya?), maka aku memutuskan dengan segala kerendahan hati mencomot 1 tempe bacem, 1 tahu bacem, 1 tahu isi dan setusuk usus yang tersusun padat tanda kalau ususnya panjang. Tak lupa seplastik teh tubruk untuk jaga-jaga kalau terjadi keadaan darurat kesereten. BTW, kenapa namanya bisa teh tubruk ya? Nevermind... pokoknya itu tadi dan kok berani-beraninya si mbak Angkringan nawari untuk dibakar. Wuaah... ini... ini... malah nantangin. Harus pake banget dibakarlah!!! Karena apa enaknya makan makanan dingin? (berlaku juga buat cewek) Setelah semua siap untuk diangkut, saya bayar lalu segera memacu motorku pulang.

Sampai di kamar 3x3, semua hidangan aku buka lalu aku santap, beuuuggghhh... entah karena akunya lapar atau emang enak... angkringan kali ini istimewa sekali. Mas Angkringan (Duet sehati Mbak Angkringan tadi) membakar semua anggota main course-ku dengan nyaris sempurna. Bahkan masih terasa hangat! Wew... Tempe bacemnya... tahu bacemnya... nge-blend sempurna dengan kehangatan dan harumnya aroma api dari arang yang telah jadi. Tahu isinya so-so lah tapi ini yang spesial... Cita rasa ususnya berada pada puncak kenikmatan. Tidak terasa dan tercium bau amis, terbakar hampir kering. Wew... Making ciamik ketika menyadari nasi-nasinya nggak keras. Oseng tempenya juga lumayan mengundang selera apalagi sambel terinya. Mayat para teri berkumpul apik memvisualkan simfoni warna sebuah hidangan yang sangat menggoda. Hmmm... 

Tak terasa semua habis ku lalap tanpa lalapan. Perut kenyang, hati senang... Alhamdulillah... 

15 December 2010

“Jangan Renggut Lambang Garuda Itu Dari Kami”

Sumber: http://bambangpamungkas20.com/bepe/?p=423#more-423

Ditulis Oleh: Bepe, waktu: 15 December 2010, pada kategori:Tim Nasional


Nama saya Bambang Pamungkas, pekerjaan saya adalah pemain sepakbola, dan saya hanyalah lulusan jurusan IPS dari Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Salatiga. Dengan latar belakang yg saya sebutkan tadi, maka saya katakan dengan jujur, jika saya adalah pribadi yg tidak begitu mengerti atau boleh dikatakan buta terhadap masalah hukum, tata negara maupun undang-undang di negeri ini…

Salah satu hal yg paling saya hindari dalam kehidupan saya adalah, mengeluarkan pendapat atau berkomentar pada hal-hal diluar bidang yg saya tekuni. Disamping karena keterbatasan pemahaman saya, hal itu juga saya khawatirkan akan menimbulkan persepsi yg salah terhadap hal-hal tersebut..

Akan tetapi hari ini, ada sebuah hal yg sangat menggelitik hati dan perasaan saya. Sebuah hal yg menurut saya tidak seharusnya dipermasalahkan. Akan tetapi pada kenyataannya hal tersebut menjadi sebuah perdebatan publik yg cukup panas, sehingga menimbulkan pro dan kontra di khalayak ramai..

Hal tersebut, tidak lain dan tidak bukan adalah digugatnya keberadaan lambang garuda di dada kiri seragam tim nasional Indonesia, seragam yg selama ini saya (Atau kami lebih tepatnya) kenakan dalam setiap pertandingan. Sebuah lambang, yg dirancang oleh Sultan Hamid II dari Pontianak, yg kemudian di disempurnakan oleh Presiden pertama republik ini, yaitu IR. Soekarno..

Adalah seorang pengacara bernama David Tobing yg menggugat kepantasan lambang kebanggan negara Indonesia tersebut menempel di seragam tim nasional Indonesia. Terkesan aneh dan mengada-ada memang, akan tetapi saya yakin jika saudara David Tobing mempunyai argumentasi yg menurut dia benar, sehingga nekat melakukan hal tersebut…

Hal pertama yg melintas di benak saya adalah, gugatan tersebut terkesan salah alamat jika hanya di tujukan kepada tim nasional sepakbola Indonesia. Karena sepanjang apa yg saya tahu dan mengerti, tidak hanya cabang olahraga sepakbola yg menyertakan lambang garuda di seragam nya. Khusus untuk tim nasional sepakbola, lambang garuda itu sendiri sudah ada sejak tahun 1956, ketika tim nasional Indonesia berlaga di olimpiade Melbourne…

Setiap cabang olah raga yg membawa nama Indonesia baik dalam apapun eventnya, “HAMPIR” semuanya menempelkan lambang kebanggan negara tersebut di seragam mereka (Silakan koreksi jika saya salah). Sehingga alangkah lebih tepatnya jika gugatan tersebut di tujukan kepada KONI, yg dalam hal ini menjadi induk organisasi dari seluruh cabang olahraga di negeri ini..

Sehingga, jika memang pencantuman lambang garuda itu melanggar aturan hukum di negeri ini. Maka biarkanlah KONI yg dalam hal ini berkewenangan memberikan himbauan kepada seluruh cabang olahraga, untuk menghapus lambang garuda tersebut, dari setiap seragam yg dikenakan oleh atlet dari seluruh cabang olahraga yg mewakili negara kita.. .

Jika kita perhatikan dengan seksama, ketika 11 pemain nasional tengah berada di tepi lapangan dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Maka barisan pemain tersebut, tidak ubahnya seperti kibaran bendera merah-putih, dengan baju merah menyala, celana dan juga kaos kaki berwarna putih. Warna itu memang sengaja di pilih, agar tim ini mempunyai ciri khas yg mampu melambangkan identitas bangsa ini, yaitu sangsaka merah-putih…

Dan jika lambang garuda tersebut, tidak tidak pantas berada di seragam kami. Apakah kami juga harus menanggalkan seragam kebesaran kami tersebut..?? Karena sepanjang apa yg saya mengerti (Sekali lagi silakan koreksi jika saya salah), kedudukan bendera merah putih lebih tinggi dari lambang garuda itu sendiri, atau setidaknya saya yakin tidak lebih rendah. Dengan demikian, maka rasanya kamipun juga tidak pantas menggunakan dua warna kebesaran tersebut…

Terlepas dari pantas atau tidaknya lambang negara tersebut melekat di dada diri kami, saya ingin sejenak mengajak rekan-rekan untuk meninggalkan polemik yg tengah hangat merebak tersebut. Saya ingin sedikit mengungkapkan tentang arti dari lambang burung garuda tersebut di hati kami, iya di hati para pesepakbola nasional yg berjuang mewakili nama bangsa dan negara…

Bagi kami, lambang garuda itu tidak hanya sebuah simbol, akan tetapi juga sebuah pemacu semangat yg tidak ada duanya. Kami memang bangga menggunakan seragam berlambangkan klub kami masing-masing, akan tetapi rasa bangga itu tidak akan pernah sebanding dengan kebanggan kami ketika menggunakan seragam merah-putih berlambang burung garuda…

Terkadang kami memang harus tersungkur, sehingga lambang garuda itu harus kotor oleh tanah dan debu. Sesekali kami juga harus bersimbah-darah, sehingga mungkin lambang garuda itu terkena percikan darah kami. Dan juga sudah barang tentu kami akan berkeringat, sehingga lambang garuda itu basah oleh tetesan keringan kami. Akan tetapi, itu adalah bagian dari cerminan totalitas serta loyalitas kami dalam berjuang atas nama bangsa dan negara ini…

“Memang tidak semua pertempuran dapat kami menangkan, dan juga tidak setiap saat kami mampu memberikan kebanggaan bagi negara ini. Akan tetapi setidaknya, kami adalah anak-anak bangsa yg berjuang dengan tulus ihklas dan sepenuh hati untuk mengharumkan nama tanah tumpah darah yg kami cintai”

Oleh karena itu, secara pribadi maupun sebagai kapten tim merah-putih mewakili seluruh komponen di dalam tim ini, kami mohon “Jangan renggut lambang garuda itu dari kami”. Karena lambang garuda itu telah menjadi saksi dari penjalanan panjang kami, lambang garuda itu telah menemani kami dalam setiap pertempuran kami, dan burung garuda itu adalah sahabat kami yg paling setia baik dalam kepedihan, kebahagiaan, kekalahan maupun kemenangan…

Terlepas dari segala perdebatan dan kontroversi yg meyelimuti seragam yg kami kenakan, hal tersebut tidak akan pernah mengurangi semangat, kebanggan, komitmen serta dedikasi kami dalam berjuang atas nama Indonesia…

Karena pada kenyataannya, simbol burung garuda berwarna emas tersebut “Sudah menjadi bagian dari jiwa dan raga kami”

Selesai..